Day-wondering.

Quarter life crisis, they said. But I haven’t even reach my quarter life yet!



Halo! Lama tak jumpa!
This time, this is me wondering and ranting about life. Specifically my life. (‘me’ mode on)

Kayaknya bener sih. Masa remaja itu masa mencari jati diri. Masa mencari jalan dan tujuan hidup. Masa menemukan kedewasaan. Duh, terdengar mudah ya? Aku juga berpikir begitu, sampai saat aku benar-benar menghadapinya. Nu-uh. Tidak mudah.

Selama 18 tahun aku hidup di dunia ini, ah, aku ternyata kecil sekali. Kecil.

Semakin bertambahnya usiaku, semakin bingung aku. Aku selalu berpikir bahwa orang dewasa bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, karena mereka sudah besar. Lagi-lagi salah. Oh, sungguh naifnya diriku.

Semakin bertambahnya usiaku, semakin kecil lingkaran temanku dan semakin banyak kenalanku, salah satunya stress. Dia ini adalah orang yang menyebalkan dan datang semaunya. Tidak mau pergi! Padahal sudah kuusir beberapa kali. Sebelum mengenalnya, aku kira dia bukan masalah besar, asalkan aku kuat, aku bisa melawannya. Aku selalu berpikir bahwa orang dewasa yang mengenalnya adalah manusia yang lemah. Hahaha. Sepertinya kata-kata itu berbalik padaku sekarang.
***
“Kamu mau jadi apa?”
Aku ingin bahagia. Bersama orang-orang yang kusayang dan berada di lingkungan yang kudamba.
Aku hanya ingin itu. Namun sulitnya mencapai itu semua. Tak terhitung berapa banyak tantangan yang harus kulewati dan berapa banyak masalah yang harus kuselesaikan. Seperti kata orang. “Dreams require willingness to sacrifice”. Sekarang, apa yang harus aku korbankan? Dari sekian banyak hal yang kumiliki, apa yang harus aku korbankan? Apakah konsekuensi yang akan kudapatkan sebanding dengan apa yang kukorbankan? Lalu, dapatkah aku bertahan? Bagaimana bila ya? Bagaimana bila tidak?

Tak kusangka, jalan hidupku harus kutentukan sekarang. Aku harus memilih sekarang. Selama ini aku tak pernah memikirkannya dengan mendalam dan kini semuanya seakan-akan menimpaku di saat yang bersamaan. Rasanya seperti diteror, aku takut, kesal, dan sedih. Rasanya seluruh hidupku dipertaruhkan dan aku tak berdaya. Aku tidak siap.

Apakah aku terlalu banyak berpikir? Terlalu banyak mengandai-andai? Terlalu banyak bermimpi?

Dalam keadaaan terjepit ini, tidakkah kamu akan merasakan hal yang sama? Well, this day-wonderer and overly idealist girl definitely feel like that. Quarter life crisis, they said. But I haven’t even reach my quarter life yet!
***
Seperti yang kubilang sebelumnya, di sini aku hanya mengeluhkan hidupku. Jujur, aku masih bingung. Entah sampai kapan. Namun aku yakin bahwa aku kecil. The world doesn’t revolve around me. Semua ini hanyalah sebutir pasir yang menghasilkan mutiara di tubuh tiram. Prosesnya menyebalkan, namun hasilnya berharga.

I gotta be brave facing the future ‘cause this is not the end, I still live.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar